Dauroh Mentor : Birrul Walidain 3 (habis)

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 09:17 with

Dari kisah pada Juraij menggambarkan begitu otoriternya (-red) doa orang tua, terutama ibu. Lantas apakah semua doa ibu akan terkabul segera dan Allah menuntaskan di dunia?

Sedikitnya ada dua syarat keadaan dimana doa menjadi pedang yang menghujam begitu keras.

(1) Kewajiban selalu didepan yang sunnah. Pada kisah Juraij, sebenarnya Juraij sedang beribadah sunnah, namun menemui panggilan Ibu adalah wajib. Maka saat itu keadaan Juraij salah dan mustajablah sumpah ibunya.

(2) Orang tua dalam keadaan tidak melanggar syariat. Tidak semua perintah orang tua wajib kita jalankan, haruslah kembali mencermati apakah sesuai syariat atau tidak. Jika jelas melanggar syariat, maka tidak wajib kita mengikutinya. Bahkan layaklah kita menasehati orang tua agar kembali ke jalan yang benar. Dengan catatan, cara menasehati pun harus lemah lembut dan santun.

Tak ada beda antara kaum laki-laki dan perempuan dalam hal ketaatan tertinggi adalah terhadab orang tua. Namun ketika seorang perempuan telah menikah, ada pergantian ketaatan tertinggi adalah kepada suaminya.

Seorang istri haruslah menetapkan perintah suami diatas perintah orang tuanya. Seorang suami tetap menetapkan perintah orang tua diatas perintah istri. Namun, sekiranya ada komunikasi yang terjalin agar tidak menjadikan mudhorot bagi semua pihak

Seorang suami tak sepantasnya semena-mena memerintah istri pun perintahnyalah yang harus paling ditaati. Seorang suami layaklah tetap mentolerir keinginan orang tua dari istri dengan tidak menjadi pagar kokoh penutup antar keduanya. Seorang istri pun harus memahami bahwa suaminya memiliki kewajiban yang lebih utama kepada orang tua suami dari pada dirinya. Seorang istri juga harus memahami bahwa Suaminyalah pemegang perintah tertinggi.

Sungguh keindahan Islam tak ada cela, setiap syariat yang ditetapkan-Nya adalah kunci kebahagiaan fidunya wal akhirat. Tugas kita cukuplah ridha akan semua ketetapannya.

WaLlahualam bissawab..