Showing posts with label mentoring. Show all posts
Showing posts with label mentoring. Show all posts

Makna dan Hakikat Tawazun

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 10:39 with


"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
(QS Al Mulk : 3)
       
Manusia dan agama lslam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah Allah. Mustahil Allah menciptakan agama lslam untuk manusia yang tidak sesuai Allah.

Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memiliki naluri beragama (agama tauhid: Al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits: Setiap bayi terlahir daIam keadaan fitrah (Islam) orang tuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi).

Sesuai dengan fitrah Allah, manusia memiliki 3 potensi, yaitu Al-Jasad (Jasmani), Al-Aql (akal) dan Ar-Ruh (rohani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada (QS. 55: 7-9.)

Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing. :

1. Jasmani.
Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim). Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halaalan thayyiban (halal dan baik) [80:24, 2:168], beristiharat [78:9], kebutuhan biologis [30: 20-21] & hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.
 
2. Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akalya. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenal hakikat sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah diperuntukkan baginya supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardh (wakil Allah di atas bumi) [2:30, 33:72]. Kebutuhan akal adalah ilmu [3:190] untuk pemenuhan sarana kehidupannya.
 
3. Ruh (hati)
Kebutuhannya adalah dzikrullah [13:28, 62:9-10]. Pemenuhan kebutuhan rohani sangat penting, agar roh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.

Dengan keseimbangan manusia dapat meraih kebahagian hakiki yang merupakan nikmat Allah. Karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala umat, ke-tawazunan akan menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan/ ummatan wasathon [2:143]. Kebahagiaan itu dapat berupa:
– Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam Bentuk ketenangan jiwa [13:28]
– Kebahagian zhahir/gerak, dalam Bentuk kestabilan, ketenangan beribadah, bekerja dan aktivitas lainnya.
 
Dengan menyeimbangkan dirinya maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai mensyukuri nikmat Allah. Dialah yang disebut manusia seutuhnya.

Rasulullah saw memerintahkan kita untuk bersikap tawazun seperti. Dapat diambil contoh kisah para sahabat Rasulullah saw, yang kurang lebih seperti ini, ada tiga orang sahabat Rasulullah saw yang datang   kepada beliau dan mengutarakan maksudnya masing-masing, orang yang pertama mengatakan bahwa dia tidak akan menikah selama hidupnya, kemudian orang yang kedua mengatakan bahwa dia akan berpuasa setiap hari dan terus-menerus seumur hidupnya dan yang terakhir mengatakan bahwa ia akan sholat tanpa henti-hentinya, namun apa kata Rasulullah saw, kalian jangan seperti itu, masing-masing urusan ada haknya, urusan dunia haknya sedangkan urusan akhirat ada juga haknya, jalankanlah hal itu dengan seimbang.

Allah SWT menciptakan alam ini dengan keseimbangan dan memerintahkan kita untuk menjaga keseimbangan itu seperti yang termaktup dalam surah Ar-Rahmaan: 7-9, yang artinya sebagai berikut:”Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”

Kemampuan manusia untuk bertawazun didukung oleh fitrahnya, manusia diciptakan dengan fitrahnya oleh Allah SWT, yang mana fitrahnya itu adalah hanif yaitu kecendrungan untuk melakukan kebaikan dan mengakui ketauhidan, namun kemudian keadaannya sesudah lahir yang terkadang diarahkan oleh kedua orang tuanya tersebut membuat anak tersebut menjadi nasrani, yahudi, majusi apabila orang tuanya tersebut merupakan non-muslim, sebagaimana yang tercantum dalam surah Ar-Ruum:30 yang artinya:”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” Serta hadist Rasulullah yang berbunyi:”Setiap bayi terlahir daIam keadaan fitrah (Islam) orang tuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi (Mutafaq alaih)”.

Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
• Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar) .
• Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani / materi saja.
• Manusia Pantheis (Kebatinan): bersandar pada hati/ batinnya saja.

Dauroh Mentor : Birrul Walidain 3 (habis)

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 09:17 with

Dari kisah pada Juraij menggambarkan begitu otoriternya (-red) doa orang tua, terutama ibu. Lantas apakah semua doa ibu akan terkabul segera dan Allah menuntaskan di dunia?

Sedikitnya ada dua syarat keadaan dimana doa menjadi pedang yang menghujam begitu keras.

(1) Kewajiban selalu didepan yang sunnah. Pada kisah Juraij, sebenarnya Juraij sedang beribadah sunnah, namun menemui panggilan Ibu adalah wajib. Maka saat itu keadaan Juraij salah dan mustajablah sumpah ibunya.

(2) Orang tua dalam keadaan tidak melanggar syariat. Tidak semua perintah orang tua wajib kita jalankan, haruslah kembali mencermati apakah sesuai syariat atau tidak. Jika jelas melanggar syariat, maka tidak wajib kita mengikutinya. Bahkan layaklah kita menasehati orang tua agar kembali ke jalan yang benar. Dengan catatan, cara menasehati pun harus lemah lembut dan santun.

Tak ada beda antara kaum laki-laki dan perempuan dalam hal ketaatan tertinggi adalah terhadab orang tua. Namun ketika seorang perempuan telah menikah, ada pergantian ketaatan tertinggi adalah kepada suaminya.

Seorang istri haruslah menetapkan perintah suami diatas perintah orang tuanya. Seorang suami tetap menetapkan perintah orang tua diatas perintah istri. Namun, sekiranya ada komunikasi yang terjalin agar tidak menjadikan mudhorot bagi semua pihak

Seorang suami tak sepantasnya semena-mena memerintah istri pun perintahnyalah yang harus paling ditaati. Seorang suami layaklah tetap mentolerir keinginan orang tua dari istri dengan tidak menjadi pagar kokoh penutup antar keduanya. Seorang istri pun harus memahami bahwa suaminya memiliki kewajiban yang lebih utama kepada orang tua suami dari pada dirinya. Seorang istri juga harus memahami bahwa Suaminyalah pemegang perintah tertinggi.

Sungguh keindahan Islam tak ada cela, setiap syariat yang ditetapkan-Nya adalah kunci kebahagiaan fidunya wal akhirat. Tugas kita cukuplah ridha akan semua ketetapannya.

WaLlahualam bissawab..

Dauroh Mentor : Birrul Walidain 2

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 09:09 with

Birrul walidain agaknya perlu untuk menambahkan sedikit pemahaman tentang hal tersebut. Mengapa? Hal ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Haruslah kita menjaga agar perasaan ibu kita tak meridhoi anaknya, karena sedikit saja cela ibu akan menghancurkan masa depan anaknya, pun ia seorang ahli ibadah. Dalam suatu kisah yang disampaikan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wassalam tentang 3 bayi yang dapat berbicara cukuplah menjadi ibrah begitu dahsyatnya doa ibu.

Juraij adalah seorang lelaki yang tekun beribadah. Ia membuat bangunan tempatnya beribadah. Suatu ketika ia berada di dalamnya. Lalu ibunya datang ketika ia sedang shalat(sunnah). Ibunya menyeru, ‘hai Juraij’. Ia berkata dalam hatinya, ‘ya Allah,Itu Ibuku, sedangkan aku sedang shalat’. Lalu ia pun menyelesaikan shalatnya dan ibunya pergi.

Keesokannya ibunya datang kembali, tapi Juraij sedang shalat. Ibunya menyeru,‘hai Juraij’. Ia berkata dalam hatinya, ‘ya Allah,itu ibuku sedangkan aku sedang shalat.’ Iapun menyelesaikan shalatnya.

Pada keesokan harinya, ibu Juraij datang lagi tapi Juraij sedang shalat, ibunya menyeru , ‘hai Juraij’. Ia berkata dalam hatinya, Ya Allah,itu ibuku sedangkan aku sedang shalat. Ia pun menyelesaikan shalatnya. Maka ibunya berkata (karena kesal), ‘Ya Allah, jangan matikan Juraij sebelum ia berhadapan dengan pelacur’.

Orang-orang bani Israil saling membicarakan Juraij dan ketekunan ibadahnya. Ada seorang perempuan pelacur yang dikenal kecantikannya berkata, ‘jika kalian mau, aku sanggup menggodai Jiraij’. Kemudian pelacur itu datang dan menggoda Juraij, tetapi Juraij tak tergoda sedikitpun.

Lalu pelacur itu mendatangi pengembala yang sedang menujutempat ibadah Juraij dan mengajaknya berzina hingga pelacur itu mengandung. Ketika seorang pelacur itu melahirkan seorang bayi , ia berkata , ‘ini bayi hasil hubunganku dengan Juraij’. Mendengar hal itu orang-orang Bani Israil mendatangi Juraij dan memintanya turun dari tempat ibadahnya. Mereka menghancurkan tempat ibadah itu dan memukuli Juraij.

Juraij berkata, ‘mengapa kalian berbuat begini’? Orang-orang Bani Israil berkata, ‘engkau telah berzina dengan perempuan ini hingga melahirkanbayi’. Juraij berkata, ‘mana bayi itu’? Maka mereka mendatangkan bayihasil hubungan gelap itu. Juraij berkata , ‘lepaskan aku sebentar, aku mau shalat’.

Kemudian Juraij pun shalat. Setelah selesai shalat, ia mendekati bayi itu dan memijit perut si bayi seraya berkata, ‘wahai bayi, tunjukan kepadaku siapa ayahmu’? Bayi itu berkata, ayahku si fulan seorang pengembala’. Orang-orang Bani Israil itu lalu mencium tangan Juraij dan meminta maaf kepadanya, dan berkata, ‘akan kami bangunkan tempat ibadah yang terbuat dari emas buatmu, Juriaj’. Juraij berkata, ‘tidak usah, bangunkan kembali tempatibadah dari tanah, seperti semula’.

Dauroh Mentor : Birrul Walidain 1

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 09:04 with

“Dan hendaklah kamu beribadah kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua“. (QS. An Nisa’ : 36).
1 Februari 2015, 8.00-11.00
Bersama : Uztad Sulayman Rasyid
Ava SMA 3 Yogyakarta

Sudah selayaknya sebagai seorang muslim selalu memperbarui ketaqwaannya, terlebih dengan amalan-amalan yang menggetarkan 'ars Allah. Amalan yang tidak hanya berat dalam menjalankannya namun juga berat timbangannya di sisi Allah.

Birrul Walidain, atau berbakti pada kedua orang tua adalah salah satunya. Birrul walidain adalah amalan tertinggi nilainya dibawah mendirikan sholat, bahkan menempatkannya lebih tinggi dari jihad fisabiliLlah.

Banyak kisah yang beliau sampaikan sebagai bukti nyata bahwa birrul walidain memiliki dampak yang langsung dirasakan di dunia maupun di akhirat.

Disuatu ketika saat Uztd Sulayman usai mengisi kajian, ada seorang laki-laki paruh baya terlihat masih terdiam diantara para jamaah yang mulai meninggalkan forum tersebut. Sekiranya, ada yang ingin ia tanyakan/sampaikan pada Beliau. Sesaat kemudian, ia menghampiri Uztd dan menanyakan perihal permasalahannya. "Uztd, apakah sekiranya pahala saya berkurang?"

Lantas ia menjabarkan kisahnya. Lelaki paruh baya ini memiliki seorang ibu yang tinggal bersamanya disepatak tanah. Pun ia tinggal terpisah atap dengan ibunya. Ia meninggali sebuah bangunan yang dulunya adalah kandang ternak bersama istri dan kedua anaknya. Sedangkan ibunya tinggal berjajar dengan bangunan yang ia tinggali. Kamar mandi yang mereka gunakan terletak di luar kedua bangunan tersebut, dimana jika ibunya hendak pergi ke kamar mandi pastilah melewati bangunan yang lelaki itu tinggali.

Di suatu tengah malam selepas hujan, lelaki itu melihat dari bayang-bayang tembok rumahnya yang sekiranya ia adalah ibunya hendak pergi ke kamar mandi. Sejenak, lekaki itu mendengar sedikit decitan bak suara ibunya terpeleset. Memang jalan depan rumahnya masih berupa tanah dan licin saat dilewati selepas hujan.

Benar saja, keesokan harinya ia melihat bekas tanda seseorang lepas terjatuh tepat di jalan yang biasa ibunya lewati ketika hendak ke kamar mandi. Lalu ia menanyakan kepada istrinya, "Berapa uang tabungan yang dimilikinya? Sudikah jika uang tersebut dibelanjakan untuk keperluan pengerasan jalan dimana ada bekas tanda orang jatuh tersebut?" Benarlah, ia belanjakan seluruh tabungannya untuk pengerasan jalan itu.

Tak terpaut lama, uang yang ia belanjakan itu sekarang sudah kembali. Bahkan seratus kali lipat lewat usaha bisnis yang ia geluti. Lantas lelaki itu menanyakan, "Apakah pahala saya berkurang Uztad, apakah pahala saya berkurang atas dibalaskannya bakti saya kepada orang tua ini didunia? Padahal sungguh bukan ini yang saya ingin kan. Yang saya inginkan adalah balasan amal di akhirat kelak, Uztad"

Beliau menambahkan, inilah dari sekian pertanyaan yang tak sanggup beliau jawab. Begitu baktinya pada orang tua hingga menjadikan manusia-manusia yang mulia di dunia dan di akhirat.

Banyak riwayat semasa Rasulullah maupun semasa sahabat yang menggambarkan begitu mulianya seseorang yang berbakti kepada orang tuanya. Seperti pemuda semasa Umar ra. bernama Uwais al-Qarny. Namanya tak dikanal di bumi, namun terkenal dilangit, doanya selalu menggetarkan 'Arsy Allah, malaikat berebut untuk mengantarkan doanya. 

Tahun Baru dan Sikap Kita

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 22:23 with
Bulan Januari tak lepas dengan perayaan tahun baru. Rakyat Indonesia pun tak ketinggalan dengan euforia kegembiraan dan pesta pora perayaan tahun baru masehi. Sejenak kita menelisik sebab awal perayaan tahun baru dan bagaimana selayaknya sebagai kaum muslimin menyikapinya.

Sejarah tahun baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Penyikapan

Islam sebagai agama yang sempurna, telah di tegaskan pada ayat terahir yang diturunkan Allah (Al-Maidah : 3) pastilah mengatur semua amalan, tindakan, dan pemyikapan dalam kehidupan beragama. Berbicara hari raya, Islam telah menetapkan hari raya mingguan, yaitu hari Jumat dan hari raya tahunan, yaitu idul Fitri dan Idul Adha. Sebuah perayaan tak lepasnya dari sebuah tujuan. Jelas, Allah dan rosul-Nya menetapkan hari-hari itu selain ibadah adalah syiar. Syiar dienul Islam. Tantas bagaimana dengan perayaan-perayaan lain?

Sebagaimana dijelaskan dari penjelasan diatas bahwa asal mula tahun baru masehi bukan berasal dari ajaran islam akan tetapi dari orang-orang kafir. Dan kita sebagai seorang muslim dituntut untuk mengikuti ajaran islam dengan semurni-murninya dan sebenar-benarnya tanpa mencampur adukan antara ajaran islam (al-haq) dengan ajaran-ajaran yang lain (bathil). 

Mengikuti perayaan orang kafir sama saja masuk dalam syiar agama mereka. Jelas, ini adalah koridor aqidah yang tak bisa di tolelir. Mengikutinya bisa saja menggelincirkan diri kita dan keimanan kita, pada kemaksiatan. Jika hal ini masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, toh jauh lebih baik meninggalkan hal yang syubhat. Seperti halnya dalam hadist riwayat Bukhori dan Muslim :
"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya..."
Terlepas dari masalah aqidah, mengikuti perayaan tahun baru hijriah juga menimbulkan banyak kerusakan dan kesiasiaan, bahkan kemaksiatan. Diantaranya ikhtilath antara kaum pria dan wanita, menghambur-hamburkan harta dalam membelanjakan barang-barang yang identik dengan perayaan tahun baru, begadang tak berfaedah, dan memainkan alat musik serta bernyanyi. Cukuplah alasan-alasan ini menjadi pantangan bagi umat islam.

Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya selalu meningkatkan kataqwaannya, dimulai dengan meninggalkan yang haram, menjauhi yang sia-sia, memelihara yang wajib, dan membiasakan yang sunnah.

Wallahualam bissawab.

- disarikan dari Materi Mentoring 16 Januari 2015-

12 Robi'ul Awal

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 23:09 with

      Adakah kita lewatkan hari itu tanpa suatu hal yang berbeda? Sementara umat muslim saat keberadaan Salahudin Al ayubi justru tak menyia-nyiakannya. Tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.
  Salahudin Al-Ayubi, salah seorang pencetus dirayakannya hari kelahiran Rosul dijadikan sebuah sarana mendongkrak semangat ketaudidan, menghimpun kekuatan perebutan kembali Majidil Aqsa. Tentun bukanlah sebagai hari raya setara Idul Fitri atau Idul Adha. Hari kelarihan Rasul adalah momentum peningkatan kecintaan para tentara kepada Rasul saat itu. Dan terbukti, dibawah pimpinan Al Ayubi Majidil Aqsa direbut kembali sampai saat ini.
Walau bukan sebagai sunah ataupun yang diajarkan Rasul, merayakan kelahiran rasulullah bolehlah menjadi momentum bagi umat muslim saat ini untuk kembali me-recharge keimanan, kecintaan, keteladanan kita pada Rasulullah. Mengenang dan mengambil pelajaran dari seluruh kisah kisah perjuangannya, mengenal dan menjalankan sunnah dari ajarannya, dan mensyiarkan Islam ke masyarakat luas.

Sebagai materi mentoring, 9 Januari 2015

Kisah Kontroversi Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 23:35 with
Teman-teman pastinya sudah akrab dengan adanya perayaan Maulid Nabi yang sering diadakan di Indonesia. Sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya kita mengetahui asal usul sesuatu yang kita kerjakan kan? Nah, perayaan Maulid Nabi sendiri sesuai dengan artinya, yakni kelahiran nabi Muhammad SAW, merupakan peryaan yang dilaksanakan untuk mengenang hari kelahiran nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawwal tahun Hijriyah. Namun hingga saat ini, hukum dari pelaksanaan perayaan hari Maulid Nabi masih terdapat perbedaan pendapat.  Perbedaan pendapat ini tentunya boleh-boleh saja ya, asal ada dasarnya yang jelas.

Ada golongan yang berpendapat bahwa merayakan Maulid Nabi adalah sebuah tindakan Bid'ah. Berasal dari kata Bida'ah yang berarti memulai sesuatu yang baru yang tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad SAW. Dan bid'ah adalah perbuatan yang dapat menjerumuskan manusia ke neraka.

Mengapa bid'ah? Karena peryaan maulid nabi ternyata baru dimulai pada generasi keempat setelah Rasulullah wafat, yang dimulai dari sebuah kaum bernama Bani Fatimiyah. Bani Fatimiyah merupakan kaum syi'ah yang terkenal sebagai penghianat kaum muslimin. Tidak berlebihan rupanya bila Bani fatimyah dikatakan sebagai penghianat, karena pada zaman itu, Bani Fatimiyah membantu pasukan salib yang dipimpin oleh Paus Leo. Perlu diketahui bersama, padahal pasukan Paus Leo merupakan pasukan yang sangat kuat dan kadar benci dengan islamnya sangat tinggi. Hal tersebut karena setiap kali Paus Leo berkhotbah, maka 10.000 orang yang mendengarkan terprovokasi dan menjadi benci dengan islam. Meski pasukannya sangat besar dan kuat, namun pasukan paus leo kesulitan untuk menaklukkan Antonia, sebuah kota yang dianggap paling kuat dan sulit dilumpuhkan dalam perang Salib. Maka, dengan iming-iming kekuasaan di tanah Palestina yang ditawarkan Paus Leo, Bani Fatimiyah rela membantu pasukan kafir tersebut sehingga mereka menang, dan berakibat pada kejatuhan kekhalifahan islam secara total.

Sebuah kaum yang haus akan kekuasaan, Bani Fatimiyah sering mengadakan perayaan perayaan agama yang megah dan mewahnya berlbihan. Parahnya yang dirayakan bukan hanya perayaan agama islam saja seperti Maulid Nabi, namun juga perayaan agama lain seperti Natal. Hal ini mereka lakukan bukan dengan niat Lillah, namun untuk merekrut anggota baru dan sesumbar bahwa merekalah yang berkuasa. Sesumbarnya pun nggak tanggung-tanggung. Tiap perayaan agamanya selalu tersedia :

  • 5000 kepala kambing
  • 10.000 ayam
  • 10.000 mentega
  • 30.000 pring kue, yang piringnya saja terbuat dari tembaga yang mahal
  • Dan menghabiskan 300.000 dirham untuk menjamu tamu (padahal jaman sekarang saja 1 1/4 dirham setara dengan 40 juta ! :O

Selain hal tersebut, track record buruk Bani Fatimiyah juga sering mengangkat mentri-mentri pemegang kekuasaan dari agama majusi, nasrani, serta mengadudomba antar mazhab. Bahkan mereka memenjarakan setiap orang yang memiliki kitab Al Muathof nya Al Malik yang menjadi dasar acuan usul Fiqh. Jelas hal tersebut sudah melampaui batas.

Maka dari itu, sejarah kelam pencetus gagasan dan konseptor perayaan Maulid Nabi serta tindakan yang dilakukan saat perayaan, membuat para ulama berpendapat bila hal tersebut adalah Bid'ah.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dan berganti generasi, dimulai pada generasinya Sholahudin Al Ayyubi, tatanan islam kembali diperbaiki. Kemudian peayaan maulid nabi diganti dengan berbai aktivitas yang sesuai dnegan ajaran agama islam yang benar.

Maka beberapa ulama ada juga yang berpendapat bahwa perayaan maulid nabi adalah bid'ah hasanah yang boleh dilakukan, dengan syarat: tidak berlebihan, dan sesuai dengan syariat dan ajaran islam yang benar. Dan juga aktivitas yang dilakukan dengan tujuan Lillahita'ala, untuk mendekatkan manusia pada Allah dan Rasulnya.

Dan semoga, apa yang selama ini membudaya di Indonesia, yakni perayaan Maulid nabi yang biasanya dilakukan dalam bentuk kajian-kajian juga bisa ditujukan untuk kebaikan dan amal sholeh. Namun bagus lagi kalau kajian nya bisa rutin dan nggak harus nunggu-nunggu monmen.


sumber: Kajian Alumni Padmanaba #1 by Ust. Zakwan Adri 13 Rabiul Awwal 1434 H

Penulisan Kata "Aamiin" yang Benar

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 21:07 with

Assalaamu'alaykum wr.wb.


Sedikit sharing mengenai kesalahan penulisan "Amin" yang sering terjadi, baik itu di Undangan pernikahan , pengucapan waktu kita berdoa, maupun kita mendoakan teman kita dan kita menuliskan kata "Amin" lewat hp, atau bahkan di iklan / acara di televisi.


Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :

1. ”AMIN” (alif dan mim sama-samapendek), artinya AMAN, TENTRAM


 2. “AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN


 3.”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA

 --> YANG BENAR :
 4.“AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang),artinya YA TUHAN, KABULKANLAN DOA KAMI




Terus Bagaimana dengan pengucapan/ Penulisan “ Amien“ ???

Memang betul, kata "Amien" sangat marak di Masyarakat. Kalo bisa, sebisa mungkin untuk kata yang satu ini (Amien) dihindari, karena ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah berdo’a. Ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra)

Dalam bahasa arab, berbeda 1 harakat aja bisa berbeda2 artinya, itu mengapa Allah menurunkan Al-Qur'an pada bahasa Arab,yang begitu indah dalam tata bahasanya dan mudah dipahami dan dipelajari, bahkan Allah sendiri yang menjamin bahwa Bahasa Arab itu mudah di pelajari, mengapa kita tidak mempelajarinya?


"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Al-Qamar :32)


Semoga kita lebih paham dalam menulis/mengucap terutama dari sisi penulisannya.

Wallaahu a'lam bisshawab

Momen Mentoring

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 17:51 with

Mentoring, sepertinya setiap pekan akan terasa 'garing' tanpa adanya mentoring. Khususnya pada hari jum'at pasti dapat kita temukan banyak lingkaran-lingkaran kelompok kecil yang bertebaran di pelosok SMA 3, baik ikhwan maupun akhwat. Ada yang di Aula, koridor, mushola atas, mushola bawah, bmt, taman sampai di lapangan tengah. Yup, hari jum'at biasanya dipilih  oleh para kelompok mentoring khususnya kelas 1, untuk kembali berkumpul dalam forum yang mulia sekaligus mengasyikkan ini.


Forum tarbiyah yang dikemas khusus ini rutin diadakan di SMA N 3 tercinta. Mentoring yang hadir baik untuk kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 ini dikelola oleh Keluarga Muslim Alumni - Padmanaba yang bersinergi dengan SKI Al-khawarizmi. Khusus untuk kelas 1, mentoring dikelola oleh Tim Pengelola Mentoring KMAP di mana juga ada kerjasama dengan pihak sekolah. Pihak sekolah mendukung pelaksanaan mentoring dan TPM juga rutin memberikan laporan hasil mentoring kepada pihak sekolah.

Mentoring, tidak hanya berkumpul mendengarkan mentor berbicara saja, namun juga selalu ada diskusi antar mentor dan mentee, baik dalam masalah keagamaan ataupun hal lain yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Pokoknya, semua bisa didiskusikan di forum  mentoring ini, selama itu positif.

Bahkan juga pada saat-saat tertentu akan diadakan acara khusus lainnya, seperti Futsal Mentoring, Rihlah, bermacam Kompetisi, dan acara-acara asik dan bermanfaat lain. Belum lagi acara-acara yang diinisisasi oleh setiap kelompok mentor sendiri, seperti mentoring outdoor, buka puasa bersama dan sebagainya.

Masih banyak kisah lain tentang mentoring di SMA 3. Ada juga beberapa momen khusus yang terekam dalam 'mentoring foto moment' yang dapat kita saksikan di bawah ini.















Bermula Dari Mentoring

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 17:49 with

     Siang ini angin bertiup lembut, membuat kerudungku sedikit berkibar dan menerpa wajahku yang penuh peluh. Segar sekali! Aku menganyunkan kakiku menuju perpustakaan. Perpustakaan selalu bersedia menjadi tempat yang paling nyaman seantero sekolah. Disana dingin dan baunya harum. Juga belasan rak buku yang menyuguhkan petualangan ke dunia lain.
            Aku menaruh sepatuku dirak sepatu. Tak begitu banyak sepatu disana. Berarti perpustakaan sepi. Aku masuk dan langsung disambut baunya yang khas, bau kapur barus. Menyenangkan sekali. Aku langsung menuju meja komputer dan mulai membuka google. Mencari informasi mengenai club pecinta alam. Ketemu! Aku merinding melihat foto-foto mereka di alam bebas. Luar biasa! Foto-foto itu seolah bercerita betapa menyenangkannya melangkahkan kaki diatas rumput yang berembun di lereng gunung, atau betapa sejuknya udara pegunungan. Aku juga menemukan banyak artikel yang ditulis oleh para pecinta alam. Juga berpuluh-puluh Taman Nasional, penangkaran binatang langka  dan tempat-tempat yang menawarkan petualangan. Ternyata masih banyak yang peduli dengan alam yang sakit ini. Mereka belajar untuk menghargai alam. Dan aku salah satu bagian dari mereka. Bangga sekali rasanya  menjadi bagian dari mereka.
            Menjadi anggota pecinta alam adalah mimpi kecilku. Mimpi yang sederhana. Aku tak menyangka Allah akan mengabulkan dengan cara yang unik luar biasa. Dan seharusnya aku bersyukur atas apa yang Allah berikan selama ini. Tiba-tiba kakiku nyeri. Membuatku ingat kejadian 1 bulan yang lalu. Aku bukanlah anak perempuan  yang anteng dan suka dengan semua hal-hal yang dianggap ‘manis’ atau imut dan lucu. Aku lebih suka hal-hal yang mungkin dianggap aneh oleh sebagian orang, tapi aku lebih suka menyebutnya unik, bukan aneh. Aku suka ngebut. Entah mengapa hal-hal disekelilingku seolah mendukungku untuk memacu sepeda motorku sekencang-kencangnya. Seolah angin mengajakku mengadu kecepatan, dan aku mengiyakan. Jadi pagi itu aku memacu sepeda motorku sekencang-kencangnya. Aku tidak mau kalah dengan waktu yang juga tak mau melorotkan kecepatannya. Intinya aku kesiangan dan nggak mau terlambat lagi. Aku tak mau menuliskan namaku dibuku ‘siswa-siswa yang terlambat’ untuk ke enam kalinya. Lima itu cukup.
            Aku kesetanan. Perasaanku bercampur aduk antara cemas dan gemas. Jalanan seolah-seolah tak ada habisnya. Panjang sekali. Yang ada dipikiranku adalah sampai disekolah tepat waktu. Bahkan aku tak mengindahkan klakson dari kendaraan lain. Aku kurang perhitungan saat mendahului motor. Yang aku ingat adalah motorku oleng dan kurasa ada sesuatu yang berat dan keras menimpa kakiku. Aku mendengar suara decitan rem, jeritan, klakson dan keributan. Rasanya seperti melayang lalu tiba-tiba dijatuhkan ke bumi. Sakit sekali. Aku sadar ada yang tidak beres. Tapi aku tak sadar bahwa aku berlumuran darah. Lalu sesorang telah mematikan lampunya, karena semua menjadi gelap.  Entah apa yang terjadi kemudian, namun saat aku bangun, aku ada diruangan putih dan silau. Ada selang ditanganku, oke, itu infus. Ada banyak perban di tangan dan wajahku. Ada ibuku yang bermata sembab duduk disamping tempat tidurku. Dan badanku rasanya remuk redam, nyeri disana-sini. Tapi ada sesuatu yang hilang. Kakiku hanya satu sentengah. Kaki kanan, dari lutut ke bawah hilang. Rasanya seperti ditampar saat aku sadar bahwa aku catat! Aku tak punya kaki yang utuh. Dadaku naik turun. Aku sangat berharap itu adalah mimpi, dan aku akan bangun, lengkap dengan 2 kaki yang utuh. Tapi kenyataannya tidak sejalan dengan harapanku. Aku CATAT.
            Aku menjadi seperti orang bodoh selama beberapa setelah itu. Nafsu makanku menguap. Tatapanku kosong. Karena aku merasa bahwa hidupku sudah rusak. Dan aku berharap seharusnya aku mati saja daripada cacat. Air mataku sudah habis, aku tak bisa menangis lagi. Saat menyalakan televisi dan melihat anak-anak yang berlarian, rasanya sedih sekali menghadapi kenyataan bahwa aku tak bisa berlari lagi. Tak bisa mendaki gunung atau menyusuri gua lagi. Tak bisa membayangkan betapa menyakitkannya ketika melihat teman-temanku naik turun dengan tali. Rasanya aku ingin bunuh diri.
            Berhari-hari aku merenung. Apa jadinya hidupku nanti. Sampai tiba saatnya aku kembali bersekolah. Kembali bertemu teman-temanku. Meskipun mereka memberi semangat dan menerima keadaanku, aku masih saja kepikiran untuk bunuh diri. Aku ingat sekali, waktu itu adalah hari Jum’at. Aku mengikuti mentoring pertamaku di mushola. Di situ, mentorku banyak bercerita mengenai islam. Mengenai sahabat para nabi yang mendapat cobaan yang jauh lebih berat dariku. Juga mengenai surga dan neraka. Sampai suatu hari, mentorku mengajak kelompok mentoringku ke panti, dimana orang-orang sepertiku berkumpul. Aku sangat kaget. Rasanya seperti kesetrum saat aku menyadari bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang berkekurangan fisik. Allah memberiku rezeki yang cukup untuk berobat. Dan mereka tidak. Tapi aku melihat betapa semangat mereka menyala-nyala. Mereka menyambut kami dengan ramah. Mentorku mengajakku untuk lebih dekat dengan mereka dan mengajak mereka mengobrol. Saat aku mengajak mereka berbicara, aku melihat semangat dimata mereka. Seperti tak ada beban atau rasa sesal atas keadaan mereka. Ada seorang anak kecil tuna netra. Wajahnya manis sekali. Dia ceria dan banyak bercerita kepadaku. Setelah acara selesai, semua anak panti kembali masuk. Aku memperhatikan anak kecil tadi, berkali-kali itu menabrak kursi saat berjalan ke pintu tapi ia tetap berdiri digandeng temannya yang tuna rungu. Aku malu sekali. Karena selama ini aku hanya sibuk dengan pikiran negatifku. Aku tidak memperhatikan sekelilingku. Aku tidak memperhatikan bahwa banyak teman yang masih peduli padaku, aku masih punya orangtua yang utuh. Aku juga diberi rezeki yang cukup oleh Allah. Tapi aku tidak mensyukurinya. Mataku buta oleh satu cobaan. Saat pintu yang ingin kumasuki tertutup, aku tidak melihat pintu-pintu lain yang terbuka.
            Disitulah perubahan dimulai. Mengikuti mentoring membawa pengaruh besar bagiku. Sejak saat itu aku aktif menulis. Dan seringkali tulisanku dimuat dikoran. Aku juga mengikuti lomba menulis karya ilmiah remaja tingkat nasional. Berbekal ilmu dari club pecinta alam, dan semangat yang ditorehkan oleh teman-teman dipanti itu, aku menulis dan terus menulis. Walaupun aku tak dapat melakukan banyak hal dengan fisikku, tapi aku berniat membuat perubahan dengan tulisan-tulisanku. Aku sangat berterima kasih kepada mentorku  dan teman-teman mentoringku atas semangat yang mereka berikan. Sekarang aku mulai tahu apa arti hidup.
            Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Aku segera memakai kruk dan keluar dari perpustakaan. Memakai sebelah sepatu yang tadi kuletakkan dirak. Cacat tidak akan menghalangiku untuk meraih cita-citaku. Cacat tidak akan membuat hidupku berakhir tragis dengan bunuh diri. Cacat akan membuatku menjadi perempuan tegar.

Paparan tentang Natal

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 18:52 with
Berikut adalah paparan mengenai Natal yang disampaikan oleh  (Ust. Salim A Fillah) melalui dunia maya. Semoga dapat menambah pemahaman kita tanpa mengurangi toleransi dan rasa hormat kita kepada umat beragama lain nya :).

  Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi'an; "Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak."

   Wasi'an: "Kalian mengimani Musa, juga 'Isa. Kamipun sama. Tambahkanlah satu nama; Muhammad. Maka sungguh kita tiada beda.
   Wasi'an: "Kalian imani Taurat, Zabur, & Injil. Kamipun demikian. Tambahkan Al Quran, maka sungguh kita satu tak terpisahkan
   Sungguh adanya kerahiban jadikan kalian lembut hati & dekat pada kami; sementara Yahudi & musyrik musuh terkeras kita. (QS 5: 82)
   Tapi mungkin memang sudah tabiat 'aqidah, satu sama lain tak rela jika kita tak serupa dalam agama secara sepenuhnya. (QS 2: 120)
    Bagaimanapun, selama kita tak saling memerangi & usir-mengusir tersebab iman, tak terlarang kita saling berkebajikan. (QS 60: 8)
    Maka inilah kita mencari titik singgung iman demi kebersamaan; itulah pengakuan ke-Ilahi-an Allah tanpa persekutuan. (QS 3: 64).
    Tetapi kami insyafi sepenuhnya, yakin di dada tak bisa dipaksakan. Kami hormati segala nan tak bisa dipertemukan. (QS 109: 6).
    Dalam keberbedaan itu, izinkan kami tetap mencintai 'Isa & Maryam, meski kami tak bisa memohon kalian mentakjubi Muhammad.
    Izinkan jua kami, membaca dengan berkaca-kaca betapa indah Surat dalam Quran yang berjudul Maryam. Gadis tersuci sepanjang zaman.
    Najasyi Habasyah & Uskup-uskupnya, juga para Patriarkh Najran menitikkan airmata, dibacakan Surat Maryam. Berkenankah kalian jua?
    Ini sungguh bukti bahwa Allah, Nabi, & Al Quran kami mengajarkan pemuliaan nan mengharukan pada Maryam & 'Isa yang tiada duanya. 13. Termuliakanlah 'Isa dengan penciptaan & kelahiran nan ajaib yang bagi kami begitu agung sebagaimana penciptaan Adam. (QS 3: 59).
    Termulialah 'Isa nan bicara dalam buaian. Salam sejahtera baginya di saat lahir, kelak diwafatkan, & nantinya dibangkitkan. (QS 19: 33)
    Saudara Nasrani terkasih; kami mencintai 'Isa, Nabi & RasulNya. Ruh & kalimatNya, yang ditiup-tumbuhkan dalam rahim suci Maryam
    Natal ini, kalian rayakan kelahiran 'Isa yang agung; tapi bagi kami tanggal 25 Desembernya agak membuat terkerut dahi bertanya-tanya.
    Sebab Maryam nan sungguh berat ujiannya itu bersalin di saat kurma masak penuh tandannya. Kemungkinan itu Maret, bukan Desember. 18. Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah ditulis para Sejarawan, 25 Des itu hari kelahiran Janus & Mitra, Dewa Matahari.
    Sungguhpun ingin rasanya syukuri lahirnya Rasul Ulul 'Azmi nan teguh hati; 'Isa, agak tak nyaman hati kami dengan hari pagan ini. 20. Sayangnya, hampir seluruh gereja sudah menyepakatinya, sampai seorang Sejarawan memelesetkan 'Son of God' sebagai 'Sun of God'.
    Itulah awal-awal yang membuat kami berat hati untuk ucapkan Salam Natal. Ini harinya Janus & Mitra. Bukan harinya 'Isa, kawan terkasih.
    Tentu tradisi ribuan tahun dengan salju & cemara, pohon sesembahan pagan Eropa itu tak bisa kami paksa untuk diubahkan seenaknya.
    Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas penghormatan yang kalian berikan di 'Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para 'ulama.
    Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik, minimal senilainya. (QS 4: 86)
    Yang disepakati para 'ulama atas keharamannya adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI. 26. Jika keterlibatan dalam kegiatan Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para 'ulama ikhtilaf pada soal ucapan selamat.
    Yang membolehi selamat Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas 'aqidah.
    Tahniah Natal, kata keduanya; bisa menjadi da'wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. (QS 6: 77-83)
    Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang 'Ibrahim Mencari Tuhan', tapi 'Ibrahim Berda'wah', demikian ditegaskan Al Qurthuby.
    Maka tahni-ah Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.
    Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.
    Adapun Al 'Utsaimin, Lajnah Fatwa KSA, dll cenderung mengharamkan tahni-ah Natal tersebab hal itu sama dengan meridhai 'aqidah keliru.
    Jadi ikhtilaf 'Ulama terkait tahni-ah Natal ini ada di ranah pemaknaan kalimat ucapan tersebut. Masing-masingnya lalu mengajukan dalil.
    Ulamapun berfatwa sesuai konteks di seputarnya, tentu ada perbedaan lingkungan sosial nan melatarbelakangi fatwa nan tak sama.
    Lajnah Fatwa KSA&Al Utsaimin menjawab di negeri yang nyaris tiada Nasrani. Al Qaradlawy&Az Zarqa berfatwa tuk masyarakat majemuk.
    Bagaimana sikap atas beda fatwa ucapan Natal? Kata Asy-Syafi'i, Al Khuruj minal Ikhtilaafi Mustahabb: keluar dari selisih itu disukai.
    Dengan jernih hati & mengukur kapasitas diri, kita bisa mempertimbangkan kedua-duanya. Ada keadaan-keadaan yang harus dicermati.
    Ikhtilaf ahli ilmu insyaaLlah menjadi kemudahan bagi kita untuk beramal yang tak sekedar benar, melainkan juga tepat & cerdas.
    Akan ada yang menghajatkan fatwa Al Qaradlawy & Az Zarqa, al; di wilayah muslim minoritas, keluarga majemuk nan erat hubungan dll
    Akan ada juga yang hajatkan fatwa Al 'Utsaimin pada posisi memelihara 'izzah agama. Misalnya Raja KSA sebagai Khadimul Haramain.
    Kata Abu Hanifah; yang terpenting BUKAN mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan mengetahui bagaimana kami menetapkannya.
    Dan adalah dosa; mengatasnamakan 'ulama tuk haramkan sesuatu; padahal mereka tidak;
    Mengamalkan atau tak mengamalkan; jauh lebih ringan dari soal menghalalkan & mengharamkan; karena ia adalah haq Pembuat Syari'at.
    Sebab itu; para 'Ulama mengistilahkan beda pendapat Fiqh dalam dimensi SHAWAB (tepat) & KHATHA' (keliru), bukannya HAQ & BATHIL.
    Maka dengan ilmu memadai, mari beramal terbaik bagi iman kita pada Allah, bagi misi kita sebagai ummat terbaik di tengah manusia.
    Demikian bincang. Semoga tak kecewa karena jawabnya tak satu. Sebab Salim, terlalu bodoh untuk lancang mentarjih ikhtilaf Ulama;)
    Maafkan sejak tadi bincang ini terjeda-jeda; karena qadarauLlah sedang fakir sinyal;

Engkaulah Guruku

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 00:01 with


Seorang pemuda belia menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi pada suatu pagi. “Wahai Guru,” ujarnya, “Semalam aku mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat Malamku.”


Sang Guru Tersenyum. “Bagus Nak,” ujarnya. “Dan nanti malam tolong hadirkan bayangan diriku di hadapanmu saat kau baca Al-Qur’an itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca.“

Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya. “Ya Ustadz,“ katanya. “Semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Al-Qur’an itu.“

“Engkau sungguh telah berbuat baik,“ sang guru menepuk pundaknya. “Nanti malam lakukan lagi dan lagi kali ini hadirkanlah wajah para shahabat Nabi yang telah mendengar Al-Qur’an itu langsung dari Rasulullah. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu.“

Pagi-pagi sang murid sudah menghadap dan mengadu. “Duh Guru,” keluhnya, “Semalam bahkan hanya sepertiga Al-Qur’an yang dapat aku lafalkan.”

“Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik,” kata sang guru mengelus kepala si pemuda. “Nanti malam bacalah Al-Qur’an dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Orang yang kepadanya Al-Qur’an diturunkan.”

Seusai shalat Subuh, sang guru bertanya, “Bagaimana shalatmu semalam?”

“Aku hanya mampu membaca satu juz Guru,” kata si pemuda sambil mendesah, “Itu pun dengan susah payah.”

“Masyaallah,” kata Sang Guru sambil memeluk sang murid dengan bangga, “Teruskan kebaikan itu, Nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah ‘Azza wa Jalla di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikaupun engkau tak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang Kau baca!”

Keesokan harinya, ternyata pemuda itu jatuh sakit. Sang guru pun datang menjenguknya. “Ada apa denganmu?” tanya sang Guru.

Sang pemuda berlinang air mata. “Demi Allah, wahai Guru,” ujarnya, “Semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Hatta, cuma Al-Fatihah pun  aku tak sanggup aku menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta‘iin” lidahku kelu. Aku merasa aku sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan “Kepada-Mu ya Allah, aku menyembah”, tapi jauh di dalam hatiku aku tahu bahwa aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya.”

“Nak ...,” kata sang guru sambil berlinang air mata, “Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sunggun aku ini muridmu. Ajarkan padaku apa yang telah engkau peroleh. Sebab meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang kau dapat di hari ini.”

Dari Ibn Al-‘Arabi dalam Futuhat Al-Makkiyah.

Air Mata Rasulullah

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 18:53 with
Kejadiannya pada bulan ini, Jumadil Awal, 1423 tahun yang lalu. Bermula dari diutusnya Al-Harits bin Umair oleh Rasulullah untuk mengirim surat kepada pemimpin Bushra. Namun dalam perjalanan ia ditangkap pemimpin Al-Balqa dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi. Di sana Harits dipenggal lehernya. Padahal membunuh utusan adalah kejahatan besar yang juga bermakna pengumuman perang. Rasulullah kemudian menghimpun 3.000 pasukan untuk berperang dengan Romawi. Peperangan pertama dengan Romawi ini di belakang hari dikenal dengan nama Perang Muktah.

Kali ini Rasulullah tidak ikut berperang. Beliau berada di Madinah. Tetapi atas izin Allah, beliau bisa mengetahui jalannya peperangan dan apa yang terjadi di Muktah. Hingga satu hari, saat bersama dengan para sahabat, beliau bercerita sambil meneteskan air mata. “Zaid mengambil bendera lalu dia syahid. Kemudian Ja’far yang mengambilnya dan dia pun syahid. Lalu Ibnu Rawahah yang mengambilnya dan dia pun syahid.”
Siapa yang tidak menangis mendengar sahabat sekaligus kader terbaiknya pergi untuk selamanya. Dan kali ini, dalam satu hari tiga sahabat terbaik itu pergi: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Ibnu Rawahah. Para sahabat yang mendengar kabar dari Rasulullah itu juga tak kuasa menahan air mata. Apalagi saat mengetahui peristiwanya secara detail.

Sesuai perintah Rasulullah, pasukan Islam dipimpin Zaid bin Haritsah dengan bendera di tangannya. 3.000 pasukan Islam melawan 100.000 tentara Romawi jelas tak seimbang. Zaid bertempur dengan gagah berani. Sampai kemudian sebuah tombak Romawi menancap di tubuhnya. Darah segar assaabiquunal awwalun tumpah di bumi Muktah. Andaikan memiliki air mata, tanah di sana sudah menangis sejak tubuh mulia itu terjatuh. Zaid tergeletak sudah. Syahid.

Bendera segera diambil Ja’far bin Abu Thalib. Kini gilirannya memimpin pasukan Islam. Sahabat yang tampan ini bertempur hebat di atas kudanya. Ketika pertempuran makin sengit, kudanya terkena senjata musuh. Ja’far terlempar. Ia segera kembali bertempur lagi. Sampai akhirnya, ada pasukan Romawi yang menebas tangan kanannya hingga putus. Darah suci pahlawan Islam tertumpah ke bumi. Ja’far belum kalah! Kini bendera Islam dipegang dengan tangan kirinya. Rupanya pasukan Romawi tidak rela bendera itu tetap berkibar. Disabetnya tangan kiri Ja’far hingga putus. Kini ia kehilangan dua tangannya. Yang tersisa hanyalah sedikit lengan bagian atas. Dengan sisa lengan itu Ja’far menahan bendera agar tetap berkibar. Namun pasukan Romawi semakin menjadi. Ada diantara mereka yang menyerang Ja’far dan membelah tubuhnya menjadi dua. Ja’far jatuh untuk yang terakhir kalinya. Syahid. Sahabat terbaik sekaligus sepupu Rasulullah ini syahid dengan lebih dari lima puluh luka di tubuhnya, luka sabetan pedang dan hujaman tombak.

Abdullah bin Rawahah segera mengambil bendera itu dan mengibarkannya. Kini ia yang memimpin pasukan. Ia memilih turun dari kudanya dan bertarung di bawah. Setelah melantunkan syair yang membakar semangat ia maju merangsek musuh dengan pedangnya. Ia bertarung sebagai seorang ksatria. Beberapa waktu kemudian pasukan Islam melihatnya terjatuh dengan darah yang menyirami bumi Muktah. Abdullah bin Rawahah syahid saat itu juga.

Rasulullah menangis mengetahui itu. Para sahabat di sisi Rasulullah juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Tangis duka. Tangis kehilangan. Kehilangan sahabat-sahabat terbaik. Kehilangan pahlawan-pahlawan pemberani. Namun bersamaan dengan tangis itu juga ada kabar gembira bagi mereka. Bahwa ketiga orang itu kini disambut para malaikat dengan penuh hormat, dijemput para bidadari, dan mendapati janji surga serta ridha Ilahi. Secara khusus kepada Ja’far bin Abu Thalib yang terbelah tubuhnya, ia dijuluki dengan Ath-Thayyar (penerbang) atau Dzul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap) sebab Allah menganugerahinya dua sayap di surga, dan dengan sayap itu ia bisa terbang sekehendaknya.

Kita, yang merasa bangga dengan sebutan kader dakwah, seringkali mengeluh dengan medan dakwah yang kita hadapi. Berat! Kita dalam aktifitas dakwah ini sering pulang malam. Di hari libur kita tidak bisa istirahat karena justru hari-hari itu banyak acara. Korban waktu. Korban tenaga. Bahkan mengeluarkan sebagian uang kita. Sementara masyarakat yang kita dakwahi tidak juga menyambut Islam sebagai manhaj mereka. Kita merasa sangat berat, dan seringkali mengeluh.

Kita merasa berat padahal kita tidak pernah berjihad. Kita mengeluh sering pulang malam dan kecapekan karena kita tidak pernah membayangkan mobilitas para sahabat seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang menempuh perjalanan beberapa pekan, lalu berperang beberapa pekan pula. Kita mengeluhkan hari libur yang tersita sehingga jarang berekreasi bersama keluarga karena kita tak pernah menempatkan diri seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang setiap kali berangkat jihad mereka meninggalkan wasiat pada istri dan keluarganya. Kita mengeluh korban tenaga, kehujanan, sampai terkena flu bahkan masuk rumah sakit. Karena kita tak pernah membayangkan jika kita yang menjadi para sahabat. Bukan flu yang menyerang tetapi anak-anak panah yang menancap di badan. Bukan panas dan meriang yang datang tetapi tombak yang menghujam. Bukan batuk karena kelelahan tapi sayatan pedang yang membentuk luka dan menumpahkan darah.

Kita mengeluh dengan pengeluaran sebagian kecil uang kita karena kita tidak membayangkan betapa besarnya biaya jihad para sahabat. Mulai dari membeli unta atau kuda, baju besi sampai senjata. Kita mengeluhkan masyarakat kita yang tidak juga menyambut dakwah sementara Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah bahkan tak pernah mengeluh meskipun berhadapan dengan 100.000 pasukan musuh. Kita merasa berat dan seringkali mengeluh karena kita tak memahami bahwa perjuangan Islam resikonya adalah kematian. Maka yang kita alami bukan apa-apa dibandingkan tombak yang menghujam tubuh Zaid bin Haritsah. Yang kita keluhkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sabetan pedang yang memutuskan dua tangan Ja’far bin Abu Thalib dan membelah tubuhnya. Yang kita rasa berat tidak seberapa dibandingkan luka-luka di tubuh Ibnu Rawahah yang membawanya pada kesyahidan.

Lalu pantaskah kita berharap Rasulullah menangis karena kematian kita? Pantaskah kita berharap malaikat datang menyambut kita? Atau bidadari menjemput kita? Kemudian pintu surga dibukakan untuk kita?
Ya Allah, jika kami memang belum pantas untuk itu semua, jangan biarkan kami mengeluh di jalan dakwah ini. Ya Allah, anugerahkanlah hidayah-Mu kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi hidayah pada kami. Amin.