Dauroh Mentor : Birrul Walidain 1

Posted by Keluarga Muslim Alumni Padmanaba on 09:04 with

“Dan hendaklah kamu beribadah kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua“. (QS. An Nisa’ : 36).
1 Februari 2015, 8.00-11.00
Bersama : Uztad Sulayman Rasyid
Ava SMA 3 Yogyakarta

Sudah selayaknya sebagai seorang muslim selalu memperbarui ketaqwaannya, terlebih dengan amalan-amalan yang menggetarkan 'ars Allah. Amalan yang tidak hanya berat dalam menjalankannya namun juga berat timbangannya di sisi Allah.

Birrul Walidain, atau berbakti pada kedua orang tua adalah salah satunya. Birrul walidain adalah amalan tertinggi nilainya dibawah mendirikan sholat, bahkan menempatkannya lebih tinggi dari jihad fisabiliLlah.

Banyak kisah yang beliau sampaikan sebagai bukti nyata bahwa birrul walidain memiliki dampak yang langsung dirasakan di dunia maupun di akhirat.

Disuatu ketika saat Uztd Sulayman usai mengisi kajian, ada seorang laki-laki paruh baya terlihat masih terdiam diantara para jamaah yang mulai meninggalkan forum tersebut. Sekiranya, ada yang ingin ia tanyakan/sampaikan pada Beliau. Sesaat kemudian, ia menghampiri Uztd dan menanyakan perihal permasalahannya. "Uztd, apakah sekiranya pahala saya berkurang?"

Lantas ia menjabarkan kisahnya. Lelaki paruh baya ini memiliki seorang ibu yang tinggal bersamanya disepatak tanah. Pun ia tinggal terpisah atap dengan ibunya. Ia meninggali sebuah bangunan yang dulunya adalah kandang ternak bersama istri dan kedua anaknya. Sedangkan ibunya tinggal berjajar dengan bangunan yang ia tinggali. Kamar mandi yang mereka gunakan terletak di luar kedua bangunan tersebut, dimana jika ibunya hendak pergi ke kamar mandi pastilah melewati bangunan yang lelaki itu tinggali.

Di suatu tengah malam selepas hujan, lelaki itu melihat dari bayang-bayang tembok rumahnya yang sekiranya ia adalah ibunya hendak pergi ke kamar mandi. Sejenak, lekaki itu mendengar sedikit decitan bak suara ibunya terpeleset. Memang jalan depan rumahnya masih berupa tanah dan licin saat dilewati selepas hujan.

Benar saja, keesokan harinya ia melihat bekas tanda seseorang lepas terjatuh tepat di jalan yang biasa ibunya lewati ketika hendak ke kamar mandi. Lalu ia menanyakan kepada istrinya, "Berapa uang tabungan yang dimilikinya? Sudikah jika uang tersebut dibelanjakan untuk keperluan pengerasan jalan dimana ada bekas tanda orang jatuh tersebut?" Benarlah, ia belanjakan seluruh tabungannya untuk pengerasan jalan itu.

Tak terpaut lama, uang yang ia belanjakan itu sekarang sudah kembali. Bahkan seratus kali lipat lewat usaha bisnis yang ia geluti. Lantas lelaki itu menanyakan, "Apakah pahala saya berkurang Uztad, apakah pahala saya berkurang atas dibalaskannya bakti saya kepada orang tua ini didunia? Padahal sungguh bukan ini yang saya ingin kan. Yang saya inginkan adalah balasan amal di akhirat kelak, Uztad"

Beliau menambahkan, inilah dari sekian pertanyaan yang tak sanggup beliau jawab. Begitu baktinya pada orang tua hingga menjadikan manusia-manusia yang mulia di dunia dan di akhirat.

Banyak riwayat semasa Rasulullah maupun semasa sahabat yang menggambarkan begitu mulianya seseorang yang berbakti kepada orang tuanya. Seperti pemuda semasa Umar ra. bernama Uwais al-Qarny. Namanya tak dikanal di bumi, namun terkenal dilangit, doanya selalu menggetarkan 'Arsy Allah, malaikat berebut untuk mengantarkan doanya.